Soal kata Lida Bisa BohonG Soal Rasa Lida Ga Bisa NoLak...!!!!.

Senin, 24 Januari 2011

Roti Maros Jajanan Khas yang Mulai Menghilang


Kabupaten Maros, adalah salah satu kabupaten di Sulawesi selatan. Dari Makassar perjalan ke Kabupaten ini tidaklah sangat jauh, hanya membutuhkan waktu perjalan kurang dari 30 menit dengan melalui jalan tol.

Mungkin tidak banyak orang yang familiar dengan Kabupaten yang satu ini. Kabupaten yang luasnya tidak lebih dari 1,619.12 km persegi, dengan jumlah penduduk hanya 250.00 jiwa adalah salah satu kabupaten tingkat II yang ada di Sulawesi Selatan.

Di kabupaten yang satu ini, kita dapat mendatangi beberapa tempat wisata, seperti Air Terjun 3 Tingkat Bantingmurung, atau gua prasejarah Leang-leang yang pernah kita baca di buku IPS anak SD, yang saat ini menjadi salah satu peradaban manusia di dunia sehingga sudah di akui oleh UNESCO, itulah sekilas tentang kabupaten ini.

Tapi, yang saya ingin ceritakan ialah makanan khas daerah ini yaitu roti maros, yang dimana disaat saya masih kecil, sehabis pulang sekolah saya selalu menyempatkan diri untuk membeli roti ini. Hampir semua orang Maros sudah merasakan kelezatan roti ini.

Roti yang menjadi ciri khas kota maros ,sulawesi selatan, dari segi bahan roti mungkin tidak ada perbedaan, berbentuk seperti roti unyil, akan tetapi di beri sebuah selai khas maros, yakni selai rasa durian. selai ini di letakkan diantara dua roti, dan dipanggang bersama roti.sehingga rasa durian dari roti ini menjadi sangat terasa dengan nikmat apalagi disantap sore-sore dengan secangkir teh atau kopi.

Namun, seiring berkmbangnya zaman, dan merjalelanya makanan-makanan cepat saji, maka mulai berkuranglah pendapatan para pembuat roti ini. Sejauh yang saya ketahui di Dekade tahun 90-an hampir di sudut kota Maros ini dapat kita jumpai tempat penjualan roti ini, yang hampir semuanya di kelola oleh satu keluarga, siapa yang tidak kenal Roti Maros bersaudara, Roti Maros 4 sekawan, atau yang paling jaya di masanya adalah Istana Roti.

Hampir setiap malam apalagi di waktu lebaran banyak bus-bus antar kota dan propinsi di sulawesi selatan yang singgah untuk membelinya, baik itu untuk oleh-oleh atau hanya sekedar dimakan selama perjalanan.

Ironis memang, disaat ada sesuatu yang baru yang lama terkadang ditinggalkan. Di awal tahun 2000 mulailah para penjual roti ini mengalami kebangkrutan karena kurangnya konsumen apalagi ditambah dengan naiknya bahan-bahan dasar seperti tepung, membuat beberapa penjual terpaksa gulung tikar.

Masih ingat dalam pikiran saya, seorang tetangga saya yang menjual jajanan ini bisa bolak-balik umrah hanya dari hasil berjualan roti ini, tapi melihat keadaannya sekarang yang hanya mengandalkan uang pensiunan membuat saya agak miris.

Tapi sebagai anak bangsa yang besar dan seorang putra daerah tidak seharusnya kita mengeluh dan terus mengeluh, mulailah berkarya dan terus berkarya serta tak lupa berdoa. Lestarikan budaya lokal, filter budaya asing, maka kita akan menjadi bangsa yang disegani.

MERDEKA …

Penulis :

Muhammad Ibrahim

Seorang mahasiswa yang saat ini sedang menjalani pendidikan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di bidang IT. Saya berasal dari kabupaten Maros di Sulawesi Selatan. Anak Sulung dari 4 bersaudara, dilahirkan dari keluarga sederhana yang dimana kedua orang tua bekerja dengan keras sebagai PNS di salah satu institusi pemerintah di daerah Maros. Di tahun 2008 menamatkan pembelajaran di Pondok Pesantren IMMIM Putra makassar, dari tahun 2002 semenjak menginjakkan kaki di Pesantren Telah aktif di bidang Penulisan dan Fotografi.

sumber : http://wisata.kompasiana.com/kuliner/2010/09/09/roti-maros-jajanan-khas-yang-mulai-menghilang/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar